Ragam jenis bisnis yang menyasar urusan perut alias makanan sudah tidak berbilang banyaknya. Dari mulai yang sebatas warung pinggir jalan, kedai fastfood, jasa katering, sampai restoran kelas premium, tidak habis-habis menyesaki ceruk pasar bisnis lidah ini. Wajar, mengingat urusan kebutuhan perut boleh dikata enggak akan ada matinya sampai kapan pun. Kue peruntungan di bisnis ini pun hampir enggak berbatas.
Potensi bisnis yang seperti tiada habis ini pula yang membikin banyak orang kepincut untuk mencoba mendulang rejeki dari usaha pemanjaan lidah ini. Tidak heran, walau pemainnya sudah begitu banyak, pemain-pemain baru juga terus bermunculan.
Saat ini sudah begitu banyak peluang mencecap rejeki dari bisnis urusan perut ini, apakah menggelontorkan modal dengan memulai dari nol sendirian. Atau, bisa juga mencari jalan masuk dengan berkongsi dengan pemain lama, apakah itu dengan memanfaatkan business opportunity atau tawaran waralaba alias franchise.
Salah satu pemain yang sudah relatif lama malang melintang di rimba raya bisnis food and beverages tanah air adalah restoran Redbean. Sejak berdiri tahun 2003 silam, restoran yang menjual menu masakan oriental (chinese food) ini sudah berkembang biak menjadi 20 outlet di seluruh Indonesia. “Pemilik Redbean sedari awal memang sudah concern di resto masakan china,” jelas Ima Guritno, Manajer Waralaba Redbean, mengawali cerita.
Awalnya, si pemilik Redbean enggak berniat untuk mewaralabakan usaha restoran ini. Namun, setelah dua tahun berjalan, tepatnya pada tahun 2005, Redbean mulai membuka tawaran waralaba untuk publik. “Itu setelah ada tujuh cabang, baru kami berani membuka waralaba,” imbuh Ima.
Dalam pakem bisnis, langkah pengembangan usaha melalui jalur waralaba memang sudah jamak. Ini pula yang mendorong manajemen Redbean untuk membuka kesempatan franchise restoran. Selain itu,”Banyak dari para pelanggan kami yang ingin bekerja sama dalam bisnis restoran,” ujarnya. Dalam rentang waktu tiga tahun sejak tawaran waralaba dibuka, saat ini sudah ada 12 outlet franchisee Redbean.
Tahun ini, Redbean memang tengah gencar menggalakkan waralaba. Dalam satu tahun paling enggak mereka targetkan ada tiga outlet waralaba Redbean. Yang paling buncit, akan ada pembukaan outlet baru di Bandung bulan depan, menyusul outlet-outlet waralaba Redbean yang sudah tersebar di Pekanbaru, Pontianak, Jogja, Padang, dan Manado.
Apa sih yang menarik dari tawaran waralaba restoran yang satu ini? Ima menjelaskan, selain bakal lebih enteng memulai bisnis karena enggak perlu merintis dari awal, peluang si terwaralaba untuk menangguk untung juga cukup besar. Mengingat masakan oriental sudah memiliki pamor bagus dan segmen pasar luas yang menyasar hampir semua kalangan. “Makanan China itu masuk di lidah semua orang ketimbang masakan Jepang atau Thailand,” papar Ima setengah berpromosi.
Untuk menjadi terwaralaba restoran berlambang kacang merah ini, selain harus menyiapkan modal kerja, anda juga harus seseorang yang sudah memiliki pengalaman bisnis sebelumnya. “Ini penting soalnya bisnis restoran itu butuh keuletan sendiri,” ungkap Ima. Jelas saja, selain butuh keuletan yang sejatinya dimiliki oleh orang yang sudah berpengalaman, sektor ini juga sudah begitu sesak dengan banyaknya pelaku usaha.
Redbean menawarkan satu jenis paket waralaba. Untuk mengakuisisi paket tersebut, si calon mitra mesti menyiapkan franchise fee sebesar Rp 350 juta. Sedangkan untuk anda yang berencana membuka Redbean di luar kota, ongkos waralabanya lebih murah yakni seharga Rp 250 juta. “Nanti royalti fee akan diambil sebanyak 4% dari omset restoran sebelum dipotong pajak, mulai bulan pertama buka,” jelas Ima.
Dengan mengeluarkan ongkos waralaba sebanyak itu, selain berhak menggunakan merek dagang Redbean selama lima tahun, si terwaralaba juga akan mendapatkan beberapa fasilitas. Di antaranya adalah rekruitmen pegawai sekaligus trainingnya, lalu support untuk survei lokasi, bantuan manajer senior dan koki senior selama satu bulan pertama, juga support untuk kontrol rutin selama kontrak berlangsung.
Selain itu, segala tetek bengek restoran dari mulai konsep desain interior, desain menu, resep kuliner, sampai manual operasional, juga disediakan oleh pewaralaba. Untuk pemilihan lokasi outlet, pewaralaba akan ikut menyurvei sekaligus membantu proses negosiasi dengan pihak mall.
Redbean memang bisa berlokasi di mall atau pun ruko. Jika memilih ruko, kemungkinan outletnya bisa lebih luas ketimbang di mall. Tapi, tentu saja ongkos renovasinya pun lebih gede. Hitung punya hitung, untuk membuka outlet Redbean, terwaralaba paling enggak harus menyiapkan duit investasi awal sebanyak Rp 1 miliar. “Itu jika lokasi outlet di mall. Kalau ruko, total investasi awal berkisar Rp 1,2 miliar,” kata Ima. Umumnya luas outlet Redbean adalah antara 160 m2 sampai 200 m2.
Umumnya, jeda waktu proses penyiapan outlet memakan waktu sekitar dua bulan. Nah, selama tenggang itu, si terwaralaba juga wajib menaruh deposit sebanyak Rp 50 juta di awal. Duit ini digunakan antara lain untuk ongkos rekruitmen dan training karyawan selama satu bulan, termasuk gaji mereka selama masa training. Juga untuk keperluan promosi awal dan administrasi. “Kalau ada sisa deposit kami akan kembalikan, sebaliknya kalau kurang ya kami bilang ke terwaralaba,” imbuhnya.
Kebutuhan karyawan untuk satu outlet adalah antara 28 sampai 30 orang. “Kami juga menentukan standar gajinya dengan mengacu pada UMR Jakarta,” kata Ima. Mengenai omset, Redbean enggak mematok secara kaku pada mitra waralaba mereka. “Yang selama ini berjalan, rata-rata omsetnya sekitar Rp 200 juta sampai Rp 250 juta,” ujar Ima.
Jika semua lancar, dalam dua tahun biasanya modal sudah bisa kembali. “Malah ada franchisee yang bisa balik modal sebelum satu tahun,” kata Ima. Memang, kelancaran usaha restoran dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya adalah pemilihan tempat usaha. Yang jelas, walau sudah berkomitmen memberikan sekian macam support kepada terwaralaba, “Terwaralaba jangan sampai hanya ongkang-ongkang kaki,” seloroh Ima.
Untuk itu, setiap bulannya, pusat akan menyambangi satu per satu terwaralaba sebagai bentuk kontrol. Supaya mitra tetap konsisten menjaga kualitas usaha, ada jenis kunjungan dari pusat yang sifatnya rahasia alias mystery guess. “Agar hasil kontrolnya lebih jelas,” katanya.
Walau berbentuk waralaba, Readbean enggak menuntut si terwaralaba untuk memasok semua bahan baku menu ke pusat. Hanya, ada beberapa bahan masakan yang memang harus dipasok dari pusat. “Yakni untuk tujuh jenis saos, dan tidak ada minimal order,” kata Ima.
Hendra Gunawan, salah satu terwaralaba Redbean, mengaku prospek usaha restoran ini masih cukup bagus. Buktinya, baru satu bulan restoran Redbean miliknya yang berlokasi di Margocity Depok beroperasi, omset minimal yang menjadi patokan pewaralaba sudah terlampaui. “Syukur sudah bisa langsung rame,” katanya. Omsetnya mencapai lebih dari Rp 200 juta. Tertarik?
Ruisa Khoiriyah, Reportase untuk Mingguan KONTAN
Posted in Uncategorized | No Comments »