Feed on
Posts
comments

Ragam jenis bisnis yang menyasar urusan perut alias makanan sudah tidak berbilang banyaknya. Dari mulai yang sebatas warung pinggir jalan, kedai fastfood, jasa katering, sampai restoran kelas premium, tidak habis-habis menyesaki ceruk pasar bisnis lidah ini. Wajar, mengingat urusan kebutuhan perut boleh dikata enggak akan ada matinya sampai kapan pun. Kue peruntungan di bisnis ini pun hampir enggak berbatas.

Potensi bisnis yang seperti tiada habis ini pula yang membikin banyak orang kepincut untuk mencoba mendulang rejeki dari usaha pemanjaan lidah ini. Tidak heran, walau pemainnya sudah begitu banyak, pemain-pemain baru juga terus bermunculan.

Saat ini sudah begitu banyak peluang mencecap rejeki dari bisnis urusan perut ini, apakah menggelontorkan modal dengan memulai dari nol sendirian. Atau, bisa juga mencari jalan masuk dengan berkongsi dengan pemain lama, apakah itu dengan memanfaatkan business opportunity atau tawaran waralaba alias franchise.

Salah satu pemain yang sudah relatif lama malang melintang di rimba raya bisnis food and beverages tanah air adalah restoran Redbean. Sejak berdiri tahun 2003 silam, restoran yang menjual menu masakan oriental (chinese food) ini sudah berkembang biak menjadi 20 outlet di seluruh Indonesia. “Pemilik Redbean sedari awal memang sudah concern di resto masakan china,” jelas Ima Guritno, Manajer Waralaba Redbean, mengawali cerita.

Awalnya, si pemilik Redbean enggak berniat untuk mewaralabakan usaha restoran ini. Namun, setelah dua tahun berjalan, tepatnya pada tahun 2005, Redbean mulai membuka tawaran waralaba untuk publik. “Itu setelah ada tujuh cabang, baru kami berani membuka waralaba,” imbuh Ima.

Dalam pakem bisnis, langkah pengembangan usaha melalui jalur waralaba memang sudah jamak. Ini pula yang mendorong manajemen Redbean untuk membuka kesempatan franchise restoran. Selain itu,”Banyak dari para pelanggan kami yang ingin bekerja sama dalam bisnis restoran,” ujarnya. Dalam rentang waktu tiga tahun sejak tawaran waralaba dibuka, saat ini sudah ada 12 outlet franchisee Redbean.

Tahun ini, Redbean memang tengah gencar menggalakkan waralaba. Dalam satu tahun paling enggak mereka targetkan ada tiga outlet waralaba Redbean. Yang paling buncit, akan ada pembukaan outlet baru di Bandung bulan depan, menyusul outlet-outlet waralaba Redbean yang sudah tersebar di Pekanbaru, Pontianak, Jogja, Padang, dan Manado.

Apa sih yang menarik dari tawaran waralaba restoran yang satu ini? Ima menjelaskan, selain bakal lebih enteng memulai bisnis karena enggak perlu merintis dari awal, peluang si terwaralaba untuk menangguk untung juga cukup besar. Mengingat masakan oriental sudah memiliki pamor bagus dan segmen pasar luas yang menyasar hampir semua kalangan. “Makanan China itu masuk di lidah semua orang ketimbang masakan Jepang atau Thailand,” papar Ima setengah berpromosi.

Untuk menjadi terwaralaba restoran berlambang kacang merah ini, selain harus menyiapkan modal kerja, anda juga harus seseorang yang sudah memiliki pengalaman bisnis sebelumnya. “Ini penting soalnya bisnis restoran itu butuh keuletan sendiri,” ungkap Ima. Jelas saja, selain butuh keuletan yang sejatinya dimiliki oleh orang yang sudah berpengalaman, sektor ini juga sudah begitu sesak dengan banyaknya pelaku usaha.

Redbean menawarkan satu jenis paket waralaba. Untuk mengakuisisi paket tersebut, si calon mitra mesti menyiapkan franchise fee sebesar Rp 350 juta. Sedangkan untuk anda yang berencana membuka Redbean di luar kota, ongkos waralabanya lebih murah yakni seharga Rp 250 juta. “Nanti royalti fee akan diambil sebanyak 4% dari omset restoran sebelum dipotong pajak, mulai bulan pertama buka,” jelas Ima.

Dengan mengeluarkan ongkos waralaba sebanyak itu, selain berhak menggunakan merek dagang Redbean selama lima tahun, si terwaralaba juga akan mendapatkan beberapa fasilitas. Di antaranya adalah rekruitmen pegawai sekaligus trainingnya, lalu support untuk survei lokasi, bantuan manajer senior dan koki senior selama satu bulan pertama, juga support untuk kontrol rutin selama kontrak berlangsung.

Selain itu, segala tetek bengek restoran dari mulai konsep desain interior, desain menu, resep kuliner, sampai manual operasional, juga disediakan oleh pewaralaba. Untuk pemilihan lokasi outlet, pewaralaba akan ikut menyurvei sekaligus membantu proses negosiasi dengan pihak mall.

Redbean memang bisa berlokasi di mall atau pun ruko. Jika memilih ruko, kemungkinan outletnya bisa lebih luas ketimbang di mall. Tapi, tentu saja ongkos renovasinya pun lebih gede. Hitung punya hitung, untuk membuka outlet Redbean, terwaralaba paling enggak harus menyiapkan duit investasi awal sebanyak Rp 1 miliar. “Itu jika lokasi outlet di mall. Kalau ruko, total investasi awal berkisar Rp 1,2 miliar,” kata Ima. Umumnya luas outlet Redbean adalah antara 160 m2 sampai 200 m2.

Umumnya, jeda waktu proses penyiapan outlet memakan waktu sekitar dua bulan. Nah, selama tenggang itu, si terwaralaba juga wajib menaruh deposit sebanyak Rp 50 juta di awal. Duit ini digunakan antara lain untuk ongkos rekruitmen dan training karyawan selama satu bulan, termasuk gaji mereka selama masa training. Juga untuk keperluan promosi awal dan administrasi. “Kalau ada sisa deposit kami akan kembalikan, sebaliknya kalau kurang ya kami bilang ke terwaralaba,” imbuhnya.

Kebutuhan karyawan untuk satu outlet adalah antara 28 sampai 30 orang. “Kami juga menentukan standar gajinya dengan mengacu pada UMR Jakarta,” kata Ima. Mengenai omset, Redbean enggak mematok secara kaku pada mitra waralaba mereka. “Yang selama ini berjalan, rata-rata omsetnya sekitar Rp 200 juta sampai Rp 250 juta,” ujar Ima.

Jika semua lancar, dalam dua tahun biasanya modal sudah bisa kembali. “Malah ada franchisee yang bisa balik modal sebelum satu tahun,” kata Ima. Memang, kelancaran usaha restoran dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya adalah pemilihan tempat usaha. Yang jelas, walau sudah berkomitmen memberikan sekian macam support kepada terwaralaba, “Terwaralaba jangan sampai hanya ongkang-ongkang kaki,” seloroh Ima.

Untuk itu, setiap bulannya, pusat akan menyambangi satu per satu terwaralaba sebagai bentuk kontrol. Supaya mitra  tetap konsisten menjaga kualitas usaha, ada jenis kunjungan dari pusat yang sifatnya rahasia alias mystery guess. “Agar hasil kontrolnya lebih jelas,” katanya.

Walau berbentuk waralaba, Readbean enggak menuntut si terwaralaba untuk memasok semua bahan baku menu ke pusat. Hanya, ada beberapa bahan masakan yang memang harus dipasok dari pusat. “Yakni untuk tujuh jenis saos, dan tidak ada minimal order,” kata Ima.

Hendra Gunawan, salah satu terwaralaba Redbean, mengaku prospek usaha restoran ini masih cukup bagus. Buktinya, baru satu bulan restoran Redbean miliknya yang berlokasi di Margocity Depok beroperasi, omset minimal yang menjadi patokan pewaralaba sudah terlampaui. “Syukur sudah bisa langsung rame,” katanya. Omsetnya mencapai lebih dari Rp 200 juta. Tertarik?

Ruisa Khoiriyah, Reportase untuk Mingguan KONTAN

Kondisi bursa yang sedang jungkir balik bagi beberapa emiten agaknya bukan masalah besar. Buktinya, di tengah situasi pasar saham yang kekurangan darah, beberapa emiten tetap tak menyusutkan niatnya untuk menggelar penawaran saham baru alias rights issue. Bagaimana peluangnya?

Kemarau likuiditas yang saat ini tengah melanda boleh dibilang sudah separah keringnya padang savana.Yah, krisis finansial global yang berepisentrum di negeri Uwak Sam itu sudah semakin nyata menyeret dunia ke dalam jebakan resesi. Bursa saham di seantero jagat pun terkapar tak tertahankan. Bursa di tanah air pun tidak mampu menghindar dari tren menyakitkan ini. Tercatat, pada perdagangan Selasa siang (28/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah longsor ke level 1.111,035.

Namun, situasi bursa yang mendekati sekarat ini nyatanya enggak menyurutkan rencana beberapa emiten untuk meluncurkan penawaran saham baru alias rights issue. Tercatat, sudah ada beberapa emiten yang melontarkan niat untuk menggelar rights issue ini di antaranya adalah PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA), PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), dan PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA).

Dalam situasi finansial global zonder gejolak seperti waktu silam langkah tersebut tentu wajar-wajar saja. Nah, bagaimana jika rights issue digelar di tengah sekaratnya pasar modal seperti saat ini? “Langkah rights issue di tengah situasi seperti ini tidaklah tepat,” tandas analis Valbury Asia Securities Mastono Ali.

Simpel saja, jika bursa diandaikan seperti sumur, apa mungkin menimba air di sumur yang tengah didera kekeringan serius? Nyungsepnya IHSG adalah bukti tak terbantahkan kian susutnya pamor pasar modal. Semua orang berlomba-lomba keluar dari pasar untuk menghindari kerugian yang lebih dalam. Harga saham pun terus rontok persis dedaunan di musim gugur, tak peduli itu saham dari emiten berfundamental bagus, setengah bagus, atau bobrok sekalipun.

Memang, di satu sisi, pilihan melakukan rights issue meski kondisi bursa tengah berdarah cukup bisa dimaklumi. Seretnya likuiditas yang mendera hampir semua lembaga keuangan dan perbankan menjadikan lantai bursa sebagai satu-satunya harapan terakhir bagi para emiten ini untuk menyesap dana segar. Banyak yang sepakat jika mendulang fulus segar lewat lantai bursa dengan aksi ini merupakan strategi paling mudah sekaligus murah ketimbang cara lain seperti mencari utang bank, misalnya. “Mencari utang di luar memang sulit di tengah situasi ketatnya likuiditas seperti saat ini,” aku Presiden Direktur Mitra Rajasa, Beni Prananto.

Namun, di sisi lain, situasi seperti ini sejatinya juga menyulitkan emiten dalam menentukan harga rights issue. Bagaimanapun, niat rights issue adalah untuk meraup modal segar, dus si emiten tentu tidak sudi jika memasang harga yang terlalu murah untuk hajatan tersebut. Persoalannya, harga saham saat ini tengah tiarap semua.

Seperti kita tahu, dalam hajatan rights issue, banderol saham biasanya dipatok di bawah harga pasarnya. Ini merupakan langkah lazim supaya para pemilik saham lama terangsang untuk mengambil haknya memborong saham baru. Sebaliknya, jika banderol saham dipampang di atas harga pasarnya sekarang yang tengah terpuruk, sudah barang tentu investor enggan melirik. Simpelnya, ngapain beli mahal-mahal lewat rights issue jika di pasar harganya tengah obral? Jika memakai asumsi ini, peluang keberhasilan hajatan rights issue tentu akan sangat tipis.

Nah, boleh jadi yang rada pahit saat mendengar rencana rights issue di tengah situasi pasar modal seperti saat ini adalah para pemegang saham lama. “Kalau mereka enggak ikut rights issue, maka nilai sahamnya akan terdilusi. Sedangkan kalau ikut, mau enggak mau mereka terpaksa beli dengan harga lebih mahal dari harga pasar,” papar Arief Budiman, analis dari Optima Kharya Capital. Namun, lain cerita jika si investor tetap yakin dengan prospek si emiten ke depan, tentu sahamnya tetap layak dikoleksi walau harus menebus dengan harga lebih mahal.

Lalu, bagaimana kira-kira prospek dua emiten yang sudah mantap melakukan rights issue? Layak tidakkah mereka untuk tetap dikoleksi? Mari kita tengok satu per satu.

Mitra Rajasa Tbk

Jika tidak ada aral melintang, emiten bersandi MIRA ini bakal menerbitkan saham baru pada 17 November nanti. Saat ini, MIRA masih menunggu keluarnya izin efektif dari Bapepam-LK. Jumlah saham baru yang diterbitkan adalah sebanyak 1,1 miliar saham dengan harga penawaran Rp 800 per saham. Harga tersebut jauh di atas harga pasar MIRA sekarang yang rontok ke Rp 660 per saham (28/10).

Beni mengaku enggak risau jika para investor enggak ikut hajatan ini. “Kami sudah ada standby buyer,” ujarnya. Pembeli siaga yang sudah jaga gawang untuk MIRA adalah PT Mandiri Sekuritas dan PT E-Capital. MIRA memberi iming-iming waran bagi investor yang tertarik. Yakni, setiap pembeli lima saham berhak atas dua waran dengan harga eksekusi Rp 400 per saham. MIRA menargetkan bisa meraup dana sekitar Rp 882,15 miliar.

Sebanyak 56,97% dana hasil rights issue akan digunakan MIRA untuk menutup utang kepada Sofitel International Ltd. Lalu, sebesar 4,68% dipakai untuk membayar surat sanggup yang diterbitkan perusahaan. “Itu semua adalah bagian dari proses akuisisi Apexindo kemarin,” jelas Beni. Nah, sisanya digunakan untuk mengakuisisi perusahaan jasa kegiatan migas dan modal kerja. “Saya kira MIRA masih bagus, akuisisi APEX bisa memperkuat mereka,” kata Arief. Ia merekomendasikan BELI untuk MIRA.

Central Proteinaprima Tbk

Juragan udang yang satu ini hendak menerbitkan saham baru sebanyak 17,23 miliar saham dengan harga Rp 100 per saham. Dari sana, CPRO berharap bisa meraup dana segar sebanyak Rp 1,72 triliun. Rencana rights issue ini belum mendapat pernyataan efektif dari Bapepam-LK karena masalah kejelasan pembeli siaga. Dus, belum jelas benar kapan pastinya hajatan ini bisa digelar. Yang jelas, CPRO sudah mematok harga rights issue lebih mahal dari harga pasar. “Saya hitung potensi dilusinya sekitar 43%,” ungkap Ike Rahmawati, analis Samuel Sekuritas. Harga saham baru CPRO sudah di patok Rp 100 per saham, jauh di atas banderolnya di pasar sekarang yang tinggal seharga Rp 62 per saham (28/10).

Dalam analisa Kepala Riset Sarijaya Securities Danny Eugene, harga CPRO di pasar saham yang terus longsor plus manajemen yang terkesan tertutup membikin prospek CPRO rada suram. “Untuk pemilik saham lama saya kira enggak perlu beli saham barunya. Kalau enggak mau terdilusi mending jual saja sekarang,” tandasnya. Ike memberi rekomendasi BELI untuk jangka panjang dengan target harga Rp 350 per saham. “Fundamental mereka masih bagus, mereka juga mau memperluas pasar ke Rusia dan Eropa,” imbuh Ike.

Ruisa Khoiriyah, reportase untuk Mingguan KONTAN edisi akhir Oktober.

#1

you know, i do. i’ll always do.

lentera

orang bilang… kebahagiaan sejati ada pada tindakan. pada “doing”. berbuat sesuatu. proses memperjuangkan sesuatu. memberikan sesuatu pada hidup. saat memperjuangkan sesuatu di luar diri kita, di sana mungkin letak indahnya.

jika terpaku pada diri sendiri, rasanya bakal cepat bosan. begitu begitu saja. kita butuh sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. tujuan yang lebih besar. 

sore ini aku merasakan itu. persis di saat hati terasa terlalu datar. belum ada sesuatu yg cukup besar untuk ku perjuangkan… semuanya biasa-biasa saja. semuanya hampir baik-baik saja. dan aku terpaku bosan. rasanya kehilangan sesuatu untuk diperjuangkan, diwujudkan. i need something bigger

lalu, sebuah telepon.

saat mendengar nada suaranya yang begitu bahagia, hangat sekali rasanya hati ini. lalu, aku seolah tersadarkan: tak perlu ku cari keluar. persis di depanku, ada hati yang selalu setia. memberinya kebahagiaan adalah sebuah kebahagiaan tertinggi yang bisa dihibahkan hidup. sebuah senyum yang berarti segalanya untukku.

lalu meluncur sebuah janji di dalam hati… apapun akan ku lakukan agar senyum itu tetap sama. bersinar bahagia.

aku hanya ingin menghikmati lebih serius. pelajaran tentang tanggung jawab. terhadap hidup, terhadap keberadaan manusia lain, di luar diri, orang-orang tercinta. mungkin dari sana, perlahan akan ku temukan, makna kehadiran ini. dengan lebih utuh. sejati.

aku masih ingat

kita, manusia, memang banyak cacat dan dosa.

tapi sebisa mungkin, kita junjung apa yang oleh orang inggris sebut DIGNITY dan INTEGRITY.

*medio April 2008*

the reason

……

itulah mengapa aku tidak pernah jatuh cinta padanya.

brand new day

How many of you people out there
Been hurt in some kind of love affair
And how many times do you swear that you’ll never love again?

How many lonely, sleepless nights
How many lies, how many fights
And why would you want to put yourself through all that again?

“Love is pain,” I hear you say
Love has a cruel and bitter way
Of paying you back for all the faith you ever had in your brain

How could it be that what you need the most
Can leave you feeling just like a ghost?
You never want to feel so sad and lost again

One day you could be looking
Through an old book in rainy weather
You see a picture of him smiling at you
When you were still together
You could be walking down the street
And who should you chance to meet
But that same old smile that you’ve been thinking of all day

You can turn the clock to zero, honey
I’ll sell the stock, we’ll spend all the money
We’re starting up a brand new day

Turn the clock all the way back
I wonder if he’ll take me back
I’m thinking in a brand new way

Turn the clock to zero, sister
You’ll never know how much I missed him
Starting up a brand new day

Turn the clock to zero, boss
The river’s wide, we’ll swim across
Started up a brand new day

It could happen to you - just like it happened to me
There’s simply no immunity - there’s no guarantee
I say love’s such a force - if you find yourself in it
And sometimes no reflection is there

Baby wait a minute, wait a minute
Wait a minute, wait a minute
Wait a minute, wait a minute

Turn the clock to zero, honey
I’ll sell the stock, we’ll spend all the money
We’re starting up a brand new day

Turn the clock to zero, Mac
I’m begging him to take me back
I’m thinking in a brand new way

Turn the clock to zero, boss
The river’s wide, we’ll swim across
Started up a brand new day

Turn the clock to zero buddy
Don’t wanna be no fuddy duddy
Started up a brand new day

I’m the rhythm in your tune
I’m the sun and you’re the moon
I’m a bat and you’re the cave
You’re the beach and I’m the wave
I’m the plow and you’re the land
You’re the glove and I’m the hand
I’m the train and you’re the station
I’m a flagpole to your nation - yeah

Stand up all you lovers in the world
Stand up and be counted every boy and every girl
Stand up all you lovers in the world
Starting up a brand new day

I’m the present to your future
You’re the wound and I’m the suture
You’re the magnet to my pole
I’m the devil in your soul
You’re the pupil I’m the teacher
You’re the church and I’m the preacher
You’re the flower I’m the rain
You’re the tunnel I’m the train

Stand up all you lovers in the world
Stand up and be counted every boy and every girl
Stand up all you lovers in the world
Starting up a brand new day

You’re the crop to my rotation
You’re the sum of my equation
I’m the answer to your question
If you follow my suggestion
We can turn this ship around
We’ll go up instead of down
You’re the pan and I’m the handle
You’re the flame and I’m the candle

Stand up all you lovers in the world
Stand up and be counted every boy and every girl
Stand up all you lovers in the world
We’re starting up a brand new day

Aku capek ngemong. Aku bosan dengan melankoli-mu. Kau hampir tak pernah berubah. Masih seperti anak kecil yang manja, merengek-rengek minta perhatian. Selalu membuka wacana-wacana yang sentimentil, filosofis, melankolis. Aku bosan. Mengapa sekian tahun kau masih saja semelankolis itu?? Yah, aku juga punya sisi mellow. Yang mungkin cukup dominan. Tapi rasanya enggak separah kamu. Aku bosan dan capek. Bercengeng-cengeng enggak jelas. Enggak ada angin enggak ada hujan ngomongin hal-hal sendu, mati, penghabisan, hal-hal suram, bla bla bla…. im sick of it.

Cobalah sekali-kali keluar dari sarang nyamanmu itu. Hiruplah dunia yang lebih riil. Yah, akan banyak kau temui melankoli di atas jagat ini. Tapi, mungkin pemaknaanmu bakal berbeda. Karena kau menginjak tanah. Selalu ada melankoli, tapi mungkin akan terbaca dengan nada yang tak sama… ada sirat ketegaran di sana. Ada optimisme. Dan kita bisa seimbang menilai semua. Tanpa lari terbirit menjadi seorang pengeluh, pengecut, dan melankolis bodoh. Catat ini: SEIMBANG.

Selama kau hikmati drama di panggung ini hanya dari lingkar nyamanmu itu, aku yakin lima tahun lagi pun kau masih saja suka datang merengek malam-malam. Aku capek. Dan bosan. Aku bukan ibumu. Aku bukan kakak perempuanmu. Aku memang temanmu. Dan menyayangi. Tapi saat ini aku benar-benar sudah muak dengan segala melankoli dan segala hal haru biru enggak ada ujungnya yang selalu kau hadirkan itu.

Hidup terlalu indah untuk terus kita lihat sisi gelapnya. Hidup terlalu luar biasa untuk terus kita kutuki absurditasnya. Hidup terlalu berharga untuk kita habiskan dengan melankoli yang sulit membawa kita kemana-mana. Hanya bikin kita kian ciut. Hanya bikin kita takut. Seolah-olah hidup ini hanya ada malam. Gelap, dingin, dan suram.

Kau lihatkah matahari itu selalu muncul setiap pagi??? Terang benderang dan membikin kulit kita merekah, memerah, berkeringat, hidup. Gairah, semangat, optimisme, harapan, juga mimpi. Hiruplah. Rayakanlah.

Sekarang kau datang lagi dengan rona yang sama. Maaf, jika aku memilih untuk keras. Aku tidak akan berpura-pura simpati dengan melayani melankoli-mu. Karena aku memang tidak bersimpati. Karena aku muak dengan orang-orang cengeng. Karena aku enggak mau tertulari kecengengan. Melankoli yang lahir dari sesuatu yang enggak worth.

Apa yang kau lihat itulah yang kau dapatkan. Saat kau melihat sisi muram dari lakon ini, sedangkan sisi cerahnya selalu kau anaktirikan… itulah yang kau dapatkan. Memang akan ada hal-hal yang selalu sanggup membuat kita tertunduk perih, bersedih, dan meratap. Tapi, lihatlah…masih banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk mengimbangi warna itu. Menambahkan warna lain dalam hidup. Dengan merah, biru, hijau, ungu, tidak melulu kelabu.

Turunlah dari menara langit itu. Injaklah tanah. Jalani yang ada. Seperti orang kebanyakan. Yang mungkin jauh lebih menghayati tugas hidup mereka tanpa terperangkap pikiran yang seringnya menyesatkan, memenjarakan kita dalam ketidakbersyukuran atas anugrah hidup. Orang kebanyakan yang bertindak seperti orang berjalan. Mengalir, tanpa banyak berpikir. Spontanitas. Lepas. Bersyukur.

Sekali-kali berkunjunglah ke pasar tradisional. Hiruplah semangat anak manusia yang begitu kental di sana. Mereka, kesederhanaan, suara tawa, di antara kerasnya lakon hidup. Semangat yang menukik langit, sekaligus penuh kerendahan hati. Mereka tidak perlu membaca Fromm untuk tahu apa itu Harapan. Bahkan, mereka mungkin tidak sempat bersibuk mencari legitimasi ayat suci untuk mencoba bertahan. Tanpa itu semua, mereka terus melangkah. Tanpa banyak protes. Tanpa mengharu biru. Sekadar menjalani hidup, menelan semua pahitnya, menghadapi tantangannya, dengan segenap keterbatasan, penuh syukur, penuh harapan.

Ini saran serius: Datanglah ke pasar tradisional, pada dini hari. Aku yakin setelah itu, tak perlu lagi kau tulis kata-kata penuh melankoli yang membuatku bosan itu. Mungkin kau, juga aku, akan malu, jika terus saja mengeluh.

Atau.. jika kau masih keras dalam kecengengan itu, maka berjalanlah sendiri, jangan libatkan aku. Maaf, aku tidak tertarik terlibat. Sama sekali.

Hidupku sudah cukup indah. Aku tak ingin merusaknya. Dan aku tidak akan pernah membiarkan seorang pun merusaknya.

Yah, mungkin akan selalu ada getir, luka yang mungkin belum sembuh, pertanyaan-pertanyaan yang selalu memantul tembok, wajah yang masih saja ada…

Tapi, itu hanyalah senoktah kecil di antara sekian keindahan yang sudah dihibahkan hidup untukku. Dan aku tahu pasti, aku bukan orang bodoh tolol yang membiarkan sebuah keindahan buyar hanya karena satu noktah saja…

Aku nemu quote bagus:

“It matters not how strait the gate, how charged with punishment the scroll, I am the master of my fate and I am the captain of my soul… Invictus by WE Henley

*semacam jawaban untuk sekian sms darimu yang masuk ke inbox hapeku*

bersendiri

by miranda risang ayu

Suatu malam, dalam dialog imajinernya, seorang murid menyatakan kepada gurunya bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial femininitasnya. Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya, dengan pepohonan, jalanan, dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri. Bukan, ia bukan tidak punya kawan. Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun. Tetapi, yang tidak dimilikinya hanya satu, pasangan hati.

 

Ketika itu, dalam sebuah perjalanan, ia juga telah menemukan sebuah masjid yang teguh, teduh, dan begitu menarik untuk pesujudan kejerian hati, tetapi ia kemudian tersadar bahwa masjid itu terlalu suci baginya. Ia sedang datang bulan. Dan, ditemukannya dirinya terhenyak di tepi jalan yang kosong, dengan darah yang keluar dari dinding-dinding hatinya yang berguncang, yang pelan tapi pasti, rata dengan tanah. Takut menghujat Tuhan, sempat juga ia sampai pada puncak kemarahan, yang berbalik dalam sepersekian detik menjadi permohonan ampun yang mendalam, bagi keteguhan iman yang kemudian disadarinya ternyata telah runyam.

Ia memang perempuan. Luar dalam. Sulitnya, ia tidak punya lagi cukup keberanian dan tenaga untuk menolak kenyataan. Beginilah titik nadir femininitas perempuan itu bisa dijabarkan dengan serangkaian kenyataan internal yang paradoksal: ia ingin tertawa tetapi hatinya pedih. Ia ingin menyelesaikan kepedihannya tetapi ia tidak ingin kepedihannya memedihkan orang lain. Ia ingin berdialog, tetapi yang bisa menjawabnya hanya air yang keluar dari matanya sendiri. Ia ingin dikuatkan oleh Tuhan, tetapi ia pikir kesucian menolaknya dan ia menemukan diri menjadi lemah di bawah lemah.

Dan dialog itu pun terjadi.

“Jika saya tertawa, saya tahu itu adalah pemberian bagi lingkungan, tetapi juga kebohongan bagi kenyataan internal saya. Sungguh ingin saya temukan orang tempat saya bisa mencurahkan kejerian hati saya dengan jujur. Anehnya, sapaan-sapaan simpatik yang saya terima membentur dinding hati. Sebaliknya, hati saya merindukan dialog yang ternyata hanya monolog. Keriuhan internal ini membuat saya capai. Jadi, bagaimana, ya Mursyid?”

“Bersendiri. Bukan menyendiri, tetapi bersendiri,” tegas gurunya.

“Wakilkan seluruh derita kepada Tuhan. Serahkan kepada-Nya. Ketika tidak ada lagi dinding yang kuat untuk bersandar, Tuhan itu cukup.” Jadi kesimpulannya, ia tidak boleh dan memang tidak mungkin lagi berkeinginan?

Bersendiri, menurut An-Nifari yang dibahasakan kembali oleh Muhammad Zuhri, adalah kenyataan yang berbeda dengan menyendiri, karena bersendiri adalah kenyataan internal yang ditemukan. Ketika itu, kata-kata tidak bisa lagi memecahkan apa pun. Air mata apalagi, yang menjadi kering bersamaan dengan habisnya tenaga untuk menangis.

Ketidakberdayaan perempuan ini adalah satu kenyataan saja sebetulnya. Hal macam begini bisa saja dialami oleh setiap orang yang ditimpa musibah; ditinggal mati orang yang dicintai, bercerai, jauh dari keluarga maupun sahabat, kehilangan pekerjaan andalan, menderita sakit berat, atau dipojokkan oleh situasi ekonomi politik.

Ketika itu, hati memang minta diistirahatkan dalam pelukan keabadian, yakni Allah sendiri. Biarkan Allah saja yang menjadi kekuatan, menjadi “sisi maskulin” yang menggenapkan.

Betulkah? Saya tidak tahu. Tetapi, jika Anda ingin menemukannya, sungguh Anda tidak sendirian.

*artikel yg dikirimkan seorang kawan beberapa tahun lalu.

my one and only love

The very thought of you makes my heart sing
Like an April breeze on the wings of spring
And you appear in all your splendour
My one and only love

The shadows fall and spread their mystic charms
In the hush of night while you’re in my arms
I feel your lips so warm and tender
My one and only love

The touch of your hand is like heaven
A heaven that I’ve never known
The blush on your cheek whenever I speak
Tells me that you are my own

You fill my eager heart with such desire
Every kiss you give sets my soul on fire
I give myself in sweet surrender
My one and only love

The blush on your cheek whenever I speak
Tells me that you are my own
You fill my eager heart with
Such desire every kiss you give
Sets my soul on fire

I give myself in sweet surrender
My one and only love
My one and only love

Older Posts »